• Jln. Wurian No. 10 Karangploso Malang

Tentang Kami

Tentang Kami

Tentang Kami

ooxoo dirintis oleh Fauzi mulai 1998 berupa usaha kecil keluarga yang menangani perbaikan alat-alat elektronik, dia meyakini keberadaan dan karakter ooxoo saat ini tidak terlepas dari anugerah yang didapati secara tak terduga ketika baru kelas 1 SMP tahun 1983, saat itu semua siswa harus memilih salah satu dari beberapa macam pelajaran keterampilan yang sesuai dengan bakat dan minat masing-masing.


Buah Jatuh tak Jauh dari Pohonnya


Tanpa ragu Fauzi menjatuhkan pilihan pada keterampilan menjahit, dia merasa akan mudah mengikuti pelajaran tersebut dan akan dengan mudah pula mendapatkan nilai yang bagus, bukan tanpa alasan jika dia merasa demikian, karena memang ayahnya seorang penjahit terbaik di desanya dan desa-desa tetangga yang mempuyai banyak anak didik yang rata-rata berhasil dalam profesinya, ayahnya merupakan penjahit yang berkelas, dipercaya para perwira dan pejabat untuk membuat jas dengan garapan yang super halus yang memerlukan ketelitian tinggi dan proses yang agak panjang, juga dia berpikir kelak akan bisa melanjutkan usaha orang tuanya.


Namun Fauzi salah besar, ternyata dia sama sekali tidak dapat menyerap pelajaran menjahit walaupun dibantu ayahnya secara maksimal untuk memahami teori dan praktiknya, untuk yang satu ini,  rupanya tidak berlaku pepatah "buah jatuh tak jauh dari pohonnya", keahlian dan kepiawaian orang tuanya sepertinya sama sekali tidak menurun pada anaknya, dalam mengikuti pelajaran menjahit alih-alih untuk mendapatkan nilai bagus, apa yang diajarkan gurunya dan juga orang tuanya sama sekali tidak dipahaminya, dia terlihat lolak-lolok atau plonga-plongo, seperti anak SD yang sedang mengikuti mata kuliah kimia organik atau teori relativitasnya Einstein dalam bahasa Polandia, "jego przeznaczeniem na szczęście nie jest szycie, takdir kebahagiaanya bukan pada menjahit".


Terdampar di Elektronika


Tidak betah dengan kondisi tersebut akhirnya fauzi pindah pilihan dari keterampilan menjahit ke elektronika, sebetulnya kata "pindah pilihan" tidaklah tepat, karena memang sebenarnya dia tersingkir oleh kondisi yang tidak nyaman di keterampilan menjahit lalu terdampar ke elektronika, apalagi baginya kata elektroika merupakan sesuatu yang belum pernah ada pada benaknya,  dia hidup di lingkungan yang jauh dari atmosfir elektronika, di desanya baru beberapa orang saja yang pasang listrik PLN dan hanya ada hitungan jari orang yang memiliki tv, jadi yang sebenarnya terjadi dia tidak sedang memilih, mungkin dia hanya terpaksa atau coba-coba jika akhirnya berada pada keterampilan elektronika.


"treetttt...treetttt..treetttt"


Satu-dua bulan mengikuti pelajaran elektronika, akhirnya tiba saatnya untuk praktik pertama yang sangat sederhana yaitu membuat bel listrik dari mur-baut, kertas karton dan kawat email, semua siswa elektronika yang terbagi dalam 10 kelompok berhasil menyelesaikan tugas praktik pertama tepat waktu, dan ke sepuluh bel hasil dari praktik tersebut semua di pasang di kelas-kelas untuk bel tanda masuk, ganti jam pelajaran dan jam istirahat, suaranya terdengar sangat nyaring "treetttt...treetttt..treetttt" bisa  sampai jarak 50 meter lebih.

Anak-anak elektronika merasa senang dan bangga ketika bel berbunyi, sampai ada yang menyempatkan menunggu tepat di bawah bel hasil karyanya di menit-menit bel akan berbunyi dan ketika bel berbunyi dia langsung beraksi menunjuk belnya sambil setengah berteriak kepada anak keterampilan lain "itu karyaku, karyamu mana", bukan maksudnya untuk bersombong, namun semata-mata untuk bercanda dan sedikit ledek-ledekan sesama teman, "belmu mbudegkin kuping" kata anak keterampilan lain, dijawabnya "ben kamu nggak telat masuk", namanya anak-anak baru kelas satu SMP, euforia-nya polos namun ada nilai-nilai tersembunyi dibaliknya yaitu memacu teman-temannya untuk berkarya, bahagia bersama dan terjalinnya keakraban di antara mereka.

Flip-flop itu Anugerah

Belum habis kebahagiaan dan suka-cita atas keberhasilan praktik pertama tersebut dan rasa bangga karena hasil karyanya dipasang di kelas-kelas sudah disusul oleh tugas praktik yang kedua yaitu membuat rangkaian dua lampu LED yang hidup secara bergantian, dengan ketentuan dikerjakan secara kelompok yang terdiri dari dua orang, papan rangkaiannya dibuat dari triplek bukan PCB (printed circuit board), harus disolder dan tata-letak komponen harus mengikuti gambar agar seragam, papan triplek ukuran 10cmx10cm dipotong halus tanpa diplitur, semua siswa senang dengan ketentuan tersebut terutama penggunaan triplek yang mudah didapat dan murah hal itu menjadikan mereka tidak merasa terbebani.


Dalam kelompoknya Fauzi mendapatkan tugas mempersiapkan triplek 10cm x 10cm dalam rupa yang sudah halus dan rapi dan sudah dilubangi sesuai pin-pin komponen sementara temen satu kelompoknya mendapat bagian membeli komponen, untuk tahap merakit dan menyolder dilakukan bersama-sama dengan kelompok-kelompok yang lainnya di sekolah dengan bimbingan langsung dari pengajar keterampilan tersebut dan waktu yang disediakan adalah 4 minggu atau 4x pertemuan.


Pada pertemuan pertama, guru memberikan kurang-lebih 15 menit arahan dari total waktu 2 jam yang tersedia dan langsung memberikan peralatan solder, multimeter, tang potong dan timah kepada masing-masing kelompok agar segera melaksanakan  tugas perakitan lampu flip-flop, sesaat kemudian dimulailah solder-menyolder, ternyata menyolder tidak mudah, timah sulit nempel ke kaki-kaki komponen walau akhirnya berhasil menyolder namun hasilnya jauh dari bagus, semua pada akhirnya berkesempatan menyolder dan 1/2 jam sebelum pelajaran selesai guru pengajar masuk lagi dan memerintahkan untuk merapikan semua peralatan dan mengumpulkan



Bersambung

WhatsApp
0811103000
0817703000
0816785757